Napak Tilas Dokter Soebandi, Pejuang Sekaligus Dokter di Medan Perang

13196332331454453719

Jember tidak bisa dipisahkan dari sosok pejuang bernama Dokter Soebandi. Namanya, tidak hanya dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan pada era Agresi Militer Pertama dan Kedua, namun, juga dikenal sebagai seorang dokter. Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan, hingga nama rumah sakit daerah Jember.

Bukan hal yang mudah bagi Widiyastuti mengingat sepak terjang almarhum Soebandi, sang ayah. Di era itu, dia bersama dua saudaranya, Widiyasmani, dan Widorini masih sangat kecil. Malah, dia bersama saudara dan sang ibu, almarhum Rr Soekesi hampir tidak pernah bertemu dengan sang kepala keluarga. “Waktu itu, bapak banyak difront pertempuran. Beliau jarang sekali pulang. Setiap hari lebih banyak bertugas,” kenangnya.

Masa peperangan mempertahankan kemerdekaan, memang masa yang sarat keprihatinan. Sebagai anak seorang dokter yang banyak ditugaskan, sekaligus sering diminta untuk membantu perjuangan, Tuti, panggilan akrabnya, dituntut untuk menerima keadaan hidup hanya dengan ibu dan kedua saudaranya. Bahkan, ketika, Soebandi bersama Brigade III Damarwulan diminta hijrah ke Blitar, dia bersama saudara dan sang ibu hanya bisa mendoakan dari Jember.

Lama berselang. Waktu serasa berputar dengan cepat, ketika keluarga kecil itu tidak pernah mendengar kabar Soebandi. “Bingung itu pasti. Ibu jelas khawatir tidak bisa mendengar kabar tentang bapak,” katanya. Dengan segala pertimbangan, Soekesi nekat membawa ketiga anaknya yang masih ke kecil pergi ke Blitar. Di kota tempat Bung Karno beristirahat dengan damai itu, mereka berempat bisa bertemu kembali dengan Soebandi.

Sayang, kebersamaan itu, tidak bisa mereka dapatkan lebih lama. Karena Soebandi diminta bergabung dengan Brigade III Damarwulan, dimana dia menjabat sebagai Kepala Dokter, dan merangkap sebagai Residen Militer Daerah Besuki. Selanjutnya, rombongan ini diminta kembali bertugas di Jember. Tak mau mempersulit keluarganya, Soebandi meninggalkan Soekesi dan tiga anaknya di Blitar.

Sampai jasadnya ditemukan di sebuah sawah, setelah pertempuran bersama Letkol Sroedji di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari, satu tahun berikutnya, keluarga baru mengetahui kepastian bahwa Soebandi telah gugur di medan juang. “Kami sekeluarga baru diberi tahu setelah jenasah ditemukan. Tidak ada pejuang teman bapak, yang berani memberi tahu. Kabar itu kami terima setelah Bapak meninggal satu tahun,” katanya.

Sebagai seorang pejuang, kemampuan Soebandi dalam bidang kedokteran memang sangat membantu. Terutama untuk menyembuhkan tentara Indonesia yang terluka akibat pertempuran.

Dilahirkan di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917 Soebandi termasuk orang yang beruntung di jaman itu. Putra pertama dari dua bersaudara ini, berhasil masuk di Ika Daigoku (sekolah kedokteran di Jakarta). Sebelumnya dia mengikuti pendidikan di HIS, MULO, dan NIAS.

Setelah lulus dari Ika Daigoku pada 12 November 1943, Soebandi melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Eise Syo Dancho. Selanjutnya, setelah lulus, dia diangkat sebagai Eise Syo Dancho. Yang kemudian di tempatkan di Daidan Lumajang. Pada saat itu, selain sebagai tentara, Soebandi juga bertugas sebagai dokter tentara. Ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945 karena Jepang menyerah pada Sekutu, dia ditugaskan di RSU Probolinggo sebagai dokter.

Pada waktu pembentukan BKR, Soebandi yang sudah berpangkat letnan kolonel dipanggil ke Malang. Di sana dia ditugaskan menjadi dokter di RST Claket Malang dengan pangkat kapten. Ketika BKR diubah menjadi TKR pada 5 Oktober 1945 dan berubah menjadi TRI , dia diberi pangkat mayor.

Pada masa Agresi militer pertama, tahun 1946, Soebandi kembali ditugaskan ke Jember. Dia yang ditugaskan sebagai kepala DKT dengan pangkat Mayor, dipindahkan ke resimen IV Divisi III, yang kemudian berubah menjadi Resimen 40 Damarwulan Divisi VIII.

Pada rentang 1945-1947 itu, Soebandi banyak bertugas di front pertahanan Surabaya selatan, Sidoarjo, Tulangan Porong, dan Bangil. Bahkan, pernah ditugaskan di front pertahanan Bekasi Jawa Barat sebagai dokter perang. Pada tahun 1947, setelah tentara Belanda menduduki Jember, dia pernah ditangkap dan dijadikan tahanan kota. Karena terpergok menolong seorang prajurit yang terluka di DKT.

Kini, sudah 61 tahun sejak Soebandi gugur di medan juang. Negara ini juga sudah merdeka, dan telah berganti-ganti presiden. Jejak perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, harusnya tidak hanya berupa monument dan taman makam pahlawan. “Kami, sebagai anak dari seorang pejuang, kadang merasa prihatin. Negeri ini sudah lama merdeka, tapi, makin lama kok makin banyak koruptor. Seolah, setiap hari selalu saja ada koruptor yang ditangkap,” kata Tuti.

Padahal, dulu di medan perang, banyak pahlawan yang tidak peduli dirinya sendiri. Mereka mengorbankan apa saja, agar negeri ini bisa merdeka. “Setelah merdeka, anak bangsanya kok malah korupsi. Mereka memang tidak merasakan kesedihan kami. Merasakan susahnya masa perang dan ditinggal seorang ayah berjuang hidup dan mati,” katanya.

Dia juga sedikit menyesalkan penghargaan Negara terhadap pejuang masih sangat kurang. “Banyak rekan-rekan Bapak saya, sesama pejuang, yang butuh perhatian dari pemerintah,” kata ibu empat anak. Dia berharap, agar pemerintah lebih memperhatikan para pejuang yang masih hidup. Selain itu, dia juga berharap agar generasi muda negeri ini, bisa menghargai perjuangan pahlawan dengan berkarya lebih baik untuk bangsa.

Elita Sitorini