Tangis di Pojok Pasar Madinah

1327843632724812528


Kasih sayangmu sungguh tak bertepi. Duhai pemilik syafaatul udzma. Ketika si buta di pojok pasar Madinah. Tiada henti memaki dan menghinamu. Engkau selalu meluangkan waktumu. Hanya untuk mendatanginya. Bukan untuk membuat perhitugan dengan Yahudi buta itu melainkan engkau mendatanginya dan Engkau cukupi kebutuhan orang yang selalu mencelamu itu. Engkau bahkan menyuapinya makan. Setelah engkau menghaluskan makanan-makanan itu. Dengan mulut sucimu. Ketika suatu hari sahabat dekatmu, Abu Bakar. Meneruskan perjuanganmu setelah wafatmu. Ia bertanya kepada istri tercintamu. Isteri yang sering engkau panggil khumaira,



“Wahai puteriku adakah Sunnah kekasihku yang masih ada, dan belum aku tunaikan?” Isterimu yang jelita itu menjawab pertanyaan Ayahandanya dengan lembut,



”Duhai Ayah, sudah semua sunnah kekasih ayahanda telah ayahanda tunaikan, tapi ada satu yang belum ayahanda tunaikan” dengan mata berbinar dan pearsaan senang sahabat yang menemanimu di dalam gua itu berkata,



“Apa itu wahai puteriku?”




Isteri tercintamu itu menjawab, “Setiap pagi setelah shalat dhuha Beliau selalu keluar membawa makanan kepada orang Yahudi di pojok pasar Madinah.”



Tanpa menunggu lama sahabatmu itu bergegas mengambil beberapa potong roti yang disiapkan isterinya untuk sarapan paginya untuk diberikan kepada orang yang disebutkan oleh isterimu itu, duhai jiwanya makhluk. Sementara itu di pojok Madinah si Yahudi yang selalu menghina dan mencelamu itu kini tiada lagi terdengar kicauan hinaannya. Mungkin kabar berpulangnya dirimu kehadirat-Nya juga telah sampai kepada si Yahudi itu.



Sahabutmu itu mendekati Yahudi buta itu, ia kaget karena tiba-tiba keluar dari mulut Yahudi itu adalah hinaan kepadamu wahai yang memiliki derajat kemuliaan tertinggi di antara para Makhluk, “Jangan dekati Muhammad, dia itu pembohong.” Tapi tah sahabat yang juga mertuamu itu tetap dengan lembut dan kasih sayang menyuapkan roti yang ia bawa itu kepada si buta Yahudi itu, belum sampai ke mulut Yahudi buta itu, tangan lembut sahabatmu itu harus terhenti, oleh tangan Yahudi buta itu yang menahannya, “Siapa kamu? Kamu bukan orang yang biasa kemari, jika orang itu kemari aku tidak perlu bersusah payah untuk menguyah makanan ini, tapi bebarapa minggu ini orang itu tidak datang kemari lagi.”



Mendengaar kata-kata Si Buta Yahudi itu, sahabatmu yang terkenal kelembutan sikapnya itu tak lagi bisa membendung matanya yang telah menelaga, perlahan air mata cinta itu menetas juga. Sambil terisak sahabatmu itu menjawab, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, orang yang biasa datang kepadamu itu adalah Muhammad Rasulullah yang sekarang telah berpulang ke sisi Tuhannya.”



Mendengar itu seolah berjuta-juta watt listrik menyengat Si Yahudi buta, “Benarkah orang yang datang kepadaku setiap hari itu adalah Muhamaad yang selalu aku maki dan aku hina?” Dengan tangis yang tak terbendung lagi sebab kerinduan kepadamu wahai pelita kehidupan, sahabatmu itu menjawab, “Benar, dia adalah Muhammad Nabi dan Rasulullah, dan aku adalah salah seorang sahabatnya.”



Si Yahudi buta itu akhirnya menjerit, menangis dan menyesal atas apa yang dia lakukan selama ini. Betapa orang yang dia hina itu, setiap hari selalu memperhatikannya dengan penuh cinta kasih. Pagi itu pojok pasar Madinah ikut menangis larut dalam tangis dua manusia yang rindu akan manusia suci, manusia yang selalu dirindukan oleh milyaraan umatnya, namanya selalu disebut dalam setiap naik turunnya nafas manusia, engkaulah itu Wahai kekasih Allah.

Zaenal Abidin