Teuku Umar Johan Pahlawan

13514891461358037375
Pahlawan nasional dari Aceh ini sudah sangat dikenal di seluruh negeri bermacam suku bangsa ini, bahkan hampir seluruh dunia. Berbagai referensi sangat mudah didapatkan di buku-buku maupun internet. Tinggal mencari Teuku Umar, langsung keluar berbagai pilihan jawaban untuk mengenal lebih dekat dengan sosok pahlawan penuh tipu muslihat ini.
Tentu saja, akan sangat jauh berbeda cerita versi buku-buku dan internet dengan curhatan masyarakat Aceh, khususnya Aceh Barat. Tempat saya menetap dan dibesarkan, juga tempat Teuku Umar memperjuangkan kemerdekaan Aceh. Raga Teuku Umar boleh saja sudah menjadi tanah namun jiwa pahlawan bangsa berkopiah ini tidak lepas dari masyarakat Aceh.
Teuku Umar merupakan sosok panutan yang pernah hadir sampai saat ini. Memiliki semangat juang yang tidak pernah bisa dilupakan. Bermodal Rencong di tangan kanan serta lafal Allahu Akbar di bibir menjadi senjata tanggung melawan Belanda kala itu. Siapa yang bisa pungkiri jika di tangan suami Cut Nyak Dien ini Belanda tertipu.
Belanda boleh saja pandai, punya banyak firasat dan licik dalam membasmi pribumi. Dengan senjata mewah dan peluruh tembus badan Belanda sah-sah saja menyombongkan diri. Taktik perang tidak selamanya berpihak pada negara yang dikenal sangat maju di Eropa saat ini. Sepandai-pandai rencana Belanda dalam berperang, akhirnya tercium juga oleh akal bulus Teuku Umar.
Teuku Umar yang gerah melihat muslihat Belanda berbelot, mendukung negara penjajah itu. Menjadi bagian dari Belanda, Teuku Umar mempelajari strategi perang mereka. Tidak hanya itu, Teuku Umar juga menyusun rencana agar dapat memboyong persenjataan Belanda. Taktik yang dilancarkan Teuku Umar berjalan mulus, sang pahlawan ini berhasil membawa lari persenjataan Belanda, diberikannya kepada pejuang Aceh. Belanda yang merasa tertipu menjadi sangat marah, bagaimana pun caranya mereka harus dapat memenggal kepala Teuku Umar!
Perang besar pun dimulai. Tujuan Belanda adalah membunuh Teuku Umar. Dalam perang besar ini pula Teuku Umar terbunuh. Belanda menyambut gembira kematian pahlawan ini, hasrat mereka ingin memenggal kepala mayat Teuku Umar. Namun apa dikata, niat busuk Belanda terdengar oleh pejuang Aceh. Berbagai tipu daya kembali digencarkan untuk menyelamatkan mayat Teuku Umar.
Demi menipu Belanda, pejuang Aceh membawa lari mayat Teuku Umar dari satu tempat ke tempat lain. Menguburkannya di sana, lalu dibatalkan kembali. Dikubur lagi dibatalkan lagi.
Adalah Ujong Kalak, pesisir pantai Meulaboh, tempat pejuang Aceh memulai tipuan mereka. Awalnya mayat Teuku Umar memang dikebumikan di daerah ini, namun karena kekhawatiran mereka membatalkannya. Agar Belanda percaya bahwa Teuku Umar disemanyamkan di sana, menurut cerita sebagian besar masyarakat Aceh, di bekas kuburan tersebut ditanam batang pisang, menyerupai kuburan sebenarnya.
Belanda percaya, mereka menggali bekas kubur itu dan menemukan batang pisang yang hampir membusuk. Alangkah kesal dan marahnya penjajah ini, pada kecanggihan daya pikir pejuang Aceh, yang sebelumnya tidak pernah mereka sangka-sangka. Nah, di tempat inilah kemudian dibangun monumen berbentuk kopiah Teuku Umar, walau sempat dihantam tsunami akhir 2004, monumen ini dibangun kembali oleh Pemerintahan Daerah Aceh Barat.
Aksi kejar mengejar tersebut berujung pada kelelahan Belanda, dan ketidaktahuan mereka akan keberadaan pejuang Aceh membawa lari mayat Teuku Umar. Merasa tidak dibuntuti lagi oleh penjajah, pejuang Aceh yang sudah jauh berlari dengan mayat Teuku Umar dipundak akhirnya mereka berhenti. Mereka baru menyadari jauhnya pelarian setelah melihat situasi yang berbeda. Di atas gunung, jauh dari perkampungan dan pusat kota Meulaboh. Mereka sudah berjalan sejauh 35 km dari pusat kota (berdasarkan ukuran sekarang ini). Dikemudian hari tempat ini dikenal dengan Meugo Rayeuk dan merupakan lokasi hutan lindung.
Di Meugo Rayeuk ini pula Makam Teuku Umar ditemukan setelah disembunyikan dari kejaran Belanda. Makam ini masih dianggap keramat dan kerap dikunjungi oleh masyarakat Aceh, baik sebagai wisata religi maupun sebagai wisata mengenang seorang pejuang tangguh Aceh hingga kini.
Perjuangan Teuku Umar akan tetap dikenang dengan berbagai cerita. Banyak kisah yang dihadirkan dalam mengenal pahlawan ini secara lebih dekat. Semangat juangnya juga masih ditanamkan oleh masyarakat Aceh kepada anak-anak mereka.
Sebuah pelajaran yang sangat berarti, bahwa berjuang bukan hanya menggerakkan senjata dan membunuh. Perjuangan juga membutuhkan taktik dan daya pikir kuat agar bisa menyingkirkan lawan. Teuku Umar, tidak hanya membunuh Belanda, namun juga membunuh rasa optimistis Belanda akan kelemahan Aceh, yang primitif di mata mereka.
Sebagai orang Aceh, saya bangga mengenal Teuku Umar dan berterima kasih pada perjuangannya!
***
Dari berbagai sumber.
bai Ruin