Istana Al-Bahia, Mutiara di Kota Marrakech (3)

Istana Al-Bahia, Mutiara di Kota Marrakech (3)


Salah satu taman di Istana Al-Bahia.


Terbuka untuk umum
Hingga saat ini Istana Al-Bahia masih digunakan sebagai tempat peristirahatan resmi keluarga raja. Namun, begitu tidak tertutup untuk umum.

Dari 160 kamar yang terdapat di dalamnya, ada beberapa kamar yang memang sengaja dibuka bagi masyarakat umum untuk memperlihatkan bagaimana para bangsawan hidup.

Jumlah ruangan kamar yang terbuka untuk umum ini mencapai puluhan. Tempat lainnya yang terbuka untuk umum adalah sebuah bangunan yang pernah dijadikan sebagai kediaman resmi Perdana Menteri Si Moussa.

Para wisatawan juga bisa mengunjungi Museum Dar Si Said yang berada di bagian utara kompleks Istana Al-Bahia. Dahulu bangunan museum ini merupakan tempat kediaman kepala pengurus rumah tangga kerajaan Sidi Said.

Berbagai koleksi peninggalan raja-raja Maroko, seperti pisau belati, pintu berukir, alat-alat musik, dan peralatan dapur dipamerkan di museum ini. Museum Dar Si Said ini dibuka untuk kunjungan umum, kecuali pada Selasa dan Jumat.

Untuk mencapai ke museum ini, para pengunjung terlebih dahulu harus melalui labirin menuju ke sebuah ruangan yang terhubung dengan sebuah halaman yang hanya ditumbuhi oleh beraneka ragam tanaman bunga. Dari halaman ini para pengunjung masih harus menaiki tangga yang menuju ke sebuah ruangan dengan atap kubah yang biasa digunakan sebagai tempat resepsi dan ruang dapur di lantai atas.

Yusuf bin Tasyfin, penguasa Murabitun
Yusuf bin Tasyfin (berkuasa 1061-1106) adalah penguasa Dinasti Murabitun (Almoravid), di Afrika Utara dan Andalusia. Di Afrika Utara, kekuasaan dinasti ini membentang dari Maroko hingga Aljazair. Sementara di Andalusia, dari Spanyol hingga Portugal.

Sementara sejarawan memperkirakan Yusuf merupakan sepupu atau kemenakan Abu Bakar bin Umar, pendiri dinasti ini. Ia mempersatukan semua daerah Islam di kawasan Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal) di bawah kekuasaan Kerajaan Maroko Murabitun (1090).

Abdullah, seorang sejarawan Muslim di abad ke-14, menggambarkan sosok Yusuf sebagai orang yang berkulit cokelat, tinggi sedang, kurus, sedikit berjenggot, bersuara lembut, bermata hitam, berhidung rajawali, alisnya bergabung, dan berambut ikal.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya